Endan Anak Ajaib Bag 2
Oleh : Enuy Nurhayati - Diposting Tanggal 10/06/2010 06:18
Muhammad Ramdani lahir di penghujung Ramadhan, anak yang tak diharapakan karena mucul dengan tiba-tiba dan tak dinyana dia pun lahir pada usia kandungan 2 bulan, dia anak yang tampan, ceria dan penuh dengan semangat, saat usia 10 bulan dia harus ditinggalkan oleh ayah yang dicintainya karena dipanggil oleh Yang Maha Kuasa saat perjalanan pulang menuju rumah setelah menghadiri pernikahan keponakannya.
Endan yang tidak tahu apa-apa hanyalah anak polos yang membutuhkan kasih sayang seorang ayah, seringkali dia diejek oleh teman-teman-temanya karena tak memiliki seorang ayah dan itu membuat ibundanya sedih, namun Ibu Komala tak mau menikah lagi karena tak mampu mengganti kedudukan suaminya dengan siapapun. Segala ejekan Endan alami, bukan membuat dia makin melupakan sosok seorang ayah namun justru membuat dia penasaran dan sering bertanya mengenai keberadaan ayahnya ke semua orang, salah satunya kepada Bibinya
“Bi, Bapak dimana sich? Naha (kenapa) ga pernah pulang ke rumah?” kata Endan yang baru menginjak umur 5 tahun
Bibinya pun menjawab dengan hati-hati, “Bapak Endan itu lagi berdagang”
“Kenapa atuh gak pulang-pulang” katanya sembari memicingkan mata
“Karena, Bapakmu ingin mengumpulkan uang yang banyak”
“Oh…” jawab Endan kurang puas atas jawaban bibinya, maka dia pun berlari menuju Ibunya yang sedang membereskan rumah.
“Mamah, kata Bibi, Bapak lagi usaha ya, kenapa ga pulang-pulang” Endan bertanya
“Muhun, lagi dagang boeh (kain kafan), Insya Allah engke ge pependak (nanti juga ketemu), tapi harus jadi anak yang sholeh dulu, jadi anak yang berbakti dan menjadi manusia sukses dunia dan akhirat, sebab bila nanti ketemu Bapak, Bapak akan senang dan bahagia ya! Mencoba menerangkan sebisa mungkin sembari menahan pilu dalam hatinya, sembari mengenang suami tercintanya yang tak bisa tergantikan kebaikannya oleh siapapun
“Em” jawab Endan sambil mengangguk tidak mengerti…
****
Endan tumbuh dan berkembang dalam asuhan Ibu dan kakak-kakaknya. Meski kasih sayang penuh diberikan saudara dan Ibunya, tapi bagi Endan Ayah adalah sosok misterius yang selalu ingin dia temukan, maka dia selalu mencari sosok Ayah tersebut dalam diri setiap Bapak-bapak yang selalu menyapa dan menyayanginya, memberi dia uang jajanan dan kasih sayang, jika ada orang yang memberinya uang dia akan segera berlari menuju rumahnya menemui Ibunya.
“Mamah…Mamah” dia mencari Ibunya di sekeling rumah, akhirnya dia menemukan Ibunya di dapur yang sedang menyiapkan makan malam untuk anak-anaknya
“Ada apa Endan, kenapa lari-lari begitu? ” kata Ibunya
“Mah, mah cepetan sholat….” kata Endan sembari mengatur napasnya yang tersengal-sengal
“Endan, kan sekarang masih jam 5 belum waktunya sholat, untuk apa mengambil air wudhu”
“Mamah, cepetan, sebab tadi ada orang yang ngasih uang ke Endan, jadi Endan harus ngedoain bapak itu” kata Endan
Ibu Komala terharu mendengar penuturan putranya yang polos, dia pun memeluk putra bungsunya sembari berucap, “Sayang, ya nanti Mamah wudhu trus sholat, habis itu kita berdo’a bersama-sama untuk mendo’akan mereka ya…tapi nanti, Mamah beresin dulu masakannya ya, trus kita tunggu adzan maghrib dulu ya..”
“ ya..” kata Endan
*****
Impian Endan kecil seolah menjadi nyata, saat dia mendengar dia akan masuk ke rumah yang di mana dia akan menemukan kasih sayang seorang Ayah. Dia pun girang dan tak berhenti bertanya pada Ibunya, “ Mah.. Mah jadi bener ya nanti Endan mau ke asrama yang disana ada ayahnya..” tak sabar Endan ingin buru-buru pergi.
“Iya sayang, nanti kita akan tinggal di rumah yang jauh lebih besar dari rumah kita, di sana pun akan banyak kakak-kakak yang sayang sama Endan”
“Beneran mah…asik” sambut Endan sambil jingkrak-jingkrakan, bahagia selain dia akan bertemu dengan sosok seorang ayah dia pun mendengar dari kakaknya Asry yang lebih dulu masuk dan hidup di Asrama Rumah Yatim Cemara, bahwa amat menyenangkan berada di asrama, karena ada Abi dan Umi yang baik juga ada kakak-kakak yang baik juga.
Sebelum pergi ke Asrama, Endan tak mampu memejamkan mata. Dia membayangkan banyak hal yang indah-indah…Abi…Abi..nama yang asing tapi dia membayangkan seorang Abi adalah seseorang yang akan menyayanginya dan memberikan limpahan kasih sayang, yang selalu mengajaknya bermain dan mengajarkan dia mengaji..Ayah…Ayah…
***
Tak Berapa lama tibalah Endan di asrama yang dituju. Malam begitu pekat, namun tak sepekat malam di tempat asalnya Pangalengan. Karena daerah ini begitu ramai dengan kendaraan, lampu kelap-kelip dimana-mana. Inilah Kota Bandung lebih tepatnya Jl. Terusan Jakarta no 143 Antapani Bandung. Endan terpaku di depan gerbang.
“Rumah yang besar” bisiknya dalam hati
“Silahkan Masuk Bu” kata seorang wanita yang mengenakan busana muslim. Tampak wajahnya teduh dan bersahaja, orang-orang memanggilnya dengan nama Umi.
“Ya” jawab Ibu Komala, dengan mengapit Endan di sampingnya sambil mencari sosok yang bernama Abi..
Tiba-tiba muncul sosok yang sederhana memakai kaos putih, berperawakan sedang dan begitu mengalihkan perhatian Endan dan itulah Bapak Tedi yang menjadi Kepala Asrama Antapani. Harapannya mengembang luar biasa, dia bahagia karena akhirnya dia memiliki Bapak atau Abi seperti teman-temannya di kampung, dia bahagia karena tidak akan ada yang menghina lagi karena dia tidak punya Bapak..
****
Beberapa minggu di asrama Antapani dia senang bukan kepalang. Ternyata bukan hanya Abi yang dia dapatkan tapi kakak-kakak laki-laki yang selalu mengajaknya main kesana-kemari terutama A Jejen dan A Azam yang selalu membawanya main, hingga Endan tau banyak hal dari mereka. Selain itu mereka jugalah yang mengajari Endan mengaji, membaca dan berbagai hal lainnya yang tidak pernah Endan pelajari selama berada di Pangelengan kampung halamannya yang asri yang terkadang dia selalu rindukan.
1. Endan Anak Ajaib
2. Orang Yang Menang Adalah Orang Yang Selalu Melihat Kedepan
3. Menghancurkan Mental Block
4. Kisah Anak Kerang
Lihat Semua Index KISAHKU